Minggu, 18 Desember 2011

Skripsi Athok

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah sesuatu yang esensial bagi manusia. Manusia bisa menghadapi alam semesta demi mempertahankan hidupnya agar tetap survive melalui pendidikan. Karena pentingnya pendidikan, Islam menempatkan pendidikan pada kedudukannya yang penting dan tinggi dalam doktrinya.
Memasuki abad ke XXI atau millennium ketiga di dunia pendidikan di hadapkan pada berbagai masalah pelik yang apabila tidak segera diatasi secara tepat tidak mustahil dunia pendidikan akan ditinggal oleh zaman. Kesadaran akan tampilnya dunia pendidikan dalam memecahkan dan merespon berbagai tantangan baru, yang timbul pada setiap zaman adalah suatu hal yang logis, bahkan suatu keharusan hal yang demikian dapat dimengerti, mengingat dunia pendidikan merupakan salah satu pranata yang terlibat langsung dalam mempersiapkan masa depan umat manusia. Kegagalan dunia pendidikan dalam menyiapkan masa depan umat manusia adalah merupakan kegagalan bagi kelangsungan kehidupan bangsa.
Sekarang ini, mutu menjadi satu-satunya hal yang sangat penting dalam sistem pendidikan. Banyak lulusan SMTA atau perguruan tinggi yang tidak siap memenuhi kebutuhan masyarakat. Masalah ini berakibat bagi masyarakat, Para siswa yang tidak siap jadi warga negara yang bertanggung jawab dan produktif ituakhirnya hanya jadi beban masyarakat, para siswa itu adalah produk sistem pendidikan yang tidak terfokus pada mutu.
Pendidikan merupakan sarana strategis untuk meningkatkan kualitas suatu bangsa. Oleh karenanya kemajuan suatu bangsa dan kemajuan pendidikan adalah suatu determinasi. Kemajuan beberapa negara di dunia ini merupakan akibat perhatian mereka yang besar dalam mengelola sektor pendidikan. Pernyataan tersebut juga diyakini oleh bangsa ini, itulah sebabnya begitu Indonesia berdaulat dan membentuk sebuah negara modern, prioritas utama yang dilakukan adalah melakukan investasi human skill dengan cara membentuk silabus pendidikan secara sistematis.
Namun, pada perkembangannya, sistem pendidikan di Indonesia sepertinya mengalami keruwetan. Pendidikan masih belum berhasil menciptakan sumber daya manusia yang andal apalagi menciptakan kualitas bangsa. Sampai-sampai banyak kalangan yang meyakini bahwa krisis multidimensi yang berkepanjangan inipun akibat gagalnya sistem pendidikan di Indonesia.
Pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam di Indonesia sangat terkait erat dengan kegiatan dakwah islamiah, pendidikan Islam berperan sebagai mediator dimana ajaran Islam dapat di sosialisasikan kepada masyarakat dalam berbagai tingkatannya. Melalui pendidikan inilah, masyarakat Indonesia dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam sesuai dengan ketentuan Al-Qur’an dan As-sunnah. Sehubungan dengan itu tingkat kedalaman pemahaman, penghayatan dan pengamalan masyarakat terhadap ajaran Islam amat tergantung pada tingkat kualitas pendidikan Islam yang di terimanya.
Suatu sistem pendidikan Islam mengandung berbagai komponen yang antara satu dan lainnya saling berkaitan. Komponen pendidikan tersebut meliputi landasan, tujuan, kurikulum, kompetensi dan profesionalisme guru, pola hubungan guru murid, metodelogi pembelajaran, sarana prasarana, evaluasi dan pembiayaan. Berbagai komponen yang terdapat dalam pendidikan ini seringkali berjalan apa adanya, alami dan tradisional, karena dilakukan tanpa perencanaan konsep yang matang akibat keadaan yang demikian, maka menjadikan mutu pendidikan Islam menggembirakan.
Hal ini dikarenakan ketidak tersediaan tenaga pendidik Islam yang profesional, yaitu tena ga pendidik yang selain menguasai materi ilmu yang diajarkannya secara baik dan benar, juga harus mampu mengajarkannya secara efisien dan efektif kepada para siswa, serta harus pula memiliki idealisme. Permasalahan lain juga terdapat dalam metodologi pembelajaran yang cenderung tradisional, pembelajaran yang lebih mengarah pada peningkatan motivasi, kreativitas, imajinasi, inovasi dan etos keilmuan serta berkembangnya potensi si anak belum dapat dilaksanakan sebagaimana harapan. Dan metode pengajaran yang selama ini sering dilakukan cenderung pada metode ceramah yang bermodalkan pada papan dan kapur tulis semata.
Salah seorang tokoh pemikir yang sangat intens dan kritis dalam meningkatkan dunia pendidikan. Khususnya pendidikan berbasis mutu adalahIbnu Sina, ia sangat intens mengintrodus ir dan mendorong orientasi menuju pendidikan yang bermutu (berkualitas) yang dimaksud pendidikan bermutu disini adalah pendidikan yang mampu menghasilkan lulusan yang sesuai dengan harapan masyarakat, baik dalam kualitas pribadi, moral, pengetahuan maupun kompetensi kerja menjadi syarat mutlak dalam kehidupan masyarakat global yang terus berkembang saat ini dan yang akan datang.
Selanjutnya Ibnu Sina juga dikenal sebagai seorang ulama’ yang amat produktif, melalui pemikiran dan pandangannya itulah Ibnu Sina dikenal oleh masyarakat di seluruh dunia, bahkan kini namanya digunakan oleh badan dunia, UNESCO, sebagai bentuk penghargaan yaitu Avicenna Award. Sebagai bintang penghargaan dalam memajukan ilmu pengetahuan dan pendidikan, seperti yang pernah diberikan kepada mantan presiden RI. Soeharto, karena keberhasilannya dalam mengatasi buta aksara di Indonesia.
Dalam peningkatan mutu pendidikan, Ibnu Sina menitikberatkan pada empat aspek, yakni tujuan pendidikan harus diarahkan pada pengembangan seluruh potensi yang dimiliki seorang ke arah perkembangan yang sempurna, yakni perkembangan fisik, intelektual dan budi pekerti, kurikulum harus didasarkan pada tingkat perkembangan usai anak didik, metode pengajaran harus sesuaikan dengan materi dan perkembangan psikologis anak dan guru harus memahami keadaan psikologi anak.
Ibnu Sina sangat memperhatikan pendidikan usia dini, karena pendidikan pada masa ini dianggap sebagai penentu mutu dan kemampuan belajar serta perjalanan hidup anak didik dimasa depan, kualitas perdana anak merupakan cermin kualitas bangsa dimasa depan. Ibnu Sina mengatakan bahwa sejak awal anak harus diberikan atau dibiasakan berperilaku, berucap kata, dan berpenampilan yang baik hukuman dan pujian dalam mendidik anak (istikhdam at-tsawab wa all-iqab fi ta’dib al-thifli) adalah dibenarkan.
Hukuman dalam pendidikan diperbolehkan asalkan tidak sampai merusak mental, kejiwaan dan fisik anak, melainkan diharapkan dapat memulihkan kesadaran dan kepekaan mereka ke arah yang lebih baik. Dalam hal ini Ibnu Sina mengatakan:
“Jika anak sudah di sapi dari susu ibunya, maka hendaknya segera dilatih dan dididik serta dibiasakan dengan etika yang baik sebelum pribadinya dikuasai oleh etika yang jelek, sebelum dikurung oleh sangkar tabiat yang buruk dan sebelum di penjara oleh tradisi yang salah karena anak kecil mudah sekali dipengaruhi oleh etika yang baik dan buruk, karena itu pendidikan yang diberikan kepadanya harus diusahakan menjauhkan mereka dari etika yang jelek, dari tabiat yang buruk dan dari tradisi yang salah dengan pujian dan celaan, ganjaran dan hukuman penerimaan dan penolakan, hadiah dan siksaan, sesuai dengan kondisi yang bersangkutan. Jika perlu pendidikan pemulihan anak ke arah etika yang baikdilakukan dengan pukulan sejauh tidak merusak dan menjadikannya penakut. Sebagaimana yang dilakukan oleh ahli hikmah bagi murid-muridnya”.

Ibnu Sina memandang bahwa yang sangat penting untuk dilakukan dalam sistem dunia pendidikan adalah meneliti tingkat kecerdasan, karakteris tik dan bakat-bakat yang dimiliki anak dan memeliharanya dalam rangka menentukan pilihan yang di senanginya untuk masa yang akan datang. Karena sesuatu yang dilakukan sesuai dengan kecerdasan dan tingkat intelektualitas serta bakat anak akan cepat berpengaruh, dalam menentukan hasil atau tidaknya seseorang untuk meraih apa yang diinginkannya.
Jika anak kecil sudah mampu berbicara dan siap menerima pelajaran maka yang harus diajarkan adalah Al-Qur’an, prinsip-prinsip agama, menulis, lagu-lagu sya’ir dan sastra. Ibnu Sina sangat mengutamakan pendidikan sastra. Karena pendidikan ini dianggap mampu menjadikan anak menghayati nilai- nilai bagi terwujudnya etika yang utama, ilmu yang terpuji, hinanya kebodohan dan celanya kelemahan atau suatu yang tidak masuk akal dan pendidikan sastra ini juga mampu menumbuhkan rasa hormat kepada kedua orang tua, berbuat baik kepada orang lain, dan menghormati setiap tamu yang datang.
Dalam penyampaian suatu materi Ibnu Sina sangat memperhatikan usia dan kematangan akal serta jasmani anak karena dengan demikian anak akan siapuntuk menerima materi tersebut. Sehingga hasil yang dicapai akan sesuai dengan yang diharapkan.
Di Indonesia sendiri pendidikan anak usia dini sebenarnya sudah di mulai sejak zaman kolonial Belanda yang di sebut dengan kelas persiapan (Voorklas) pada tahun 1914 yang fungsinya menyiapkan anak-anak memasuki HIS (sekolah dasar masa Belanda). Ki Hajar Dewan Tara mendirikan taman Indria di perguruan taman siswa pada tahun 1922.
Sebagai model pendidikan anak usia dini, juga Bustanul Athfal, yang diprakarsai organisasi-organisasi Islam di Indonesia. modal pendidikan anak usia dini menemukan bentuknya yang sangat solid sejak tahun 1941 pada saat sekolah jenis Kinderganten atau Gargen Of Children yaitu berarti kebun milik anak” atau yang dikembangkan pertama kali oleh Proebel (1792-1852), bapak pendidikan anak usia dini dari Blankenbur Jerman, diperkenalkan ke dunia dengan nama taman kanak-kanak”.
Ibnu Sina mendeskripsikan, keluarga diharapkan bisa menjadi taman pendidikan pertama dan utama bagi anak karena itu orang tua sebaiknya memahami apa yang sebetulnya dibutuhkan anak-anak mereka. Selain itu orang tua juga harus bisa menularkan nilai- nilai sosial, seperti rasa belas kasih dan empati terhadap orang lain.
Dan sekolah yang menyelenggarakan pendidikan anak usia dini haruslah melibatkan partisipasi aktif orang tua, agar tidak terkesan hanya menjadi pantipenitipan anak. Artinya jangan sampai sekolah pendidikan anak itu hanya menjadi “majelis anak” secara rutin, kurang variatif, kurang memperhatikan kompetensi pribadi si anak, sosialisasi kepatuhan daripada otonomi, dan “celakanya” orang tuapun cenderung melepaskan tanggung jawab mereka sebagai pengasuh kepala sekolah. Partisipasi aktif orang tua atau wali anak dan keterlibatan mereka dalam pertemuan-pertemuan di sekolah mutlak dibutuhkan bagi kesinambungan pendidikan anak.
Oleh sebab itu dapat kita simpulkan agar pendidikan itu mempunyai mutu yang baik, maka pendidik dalam menyampaikan suatu pelajaran harus memperhatikan tingkat usia, karakteristik, kecerdasan dan bakat anak didik, serta pentingnya kepartisipasian orang tua terhadap perkembangan pendidikan anak, karena orang tua juga sangat mendukung keberhasilan belajar anak. Jika semua ini terpenuhi maka mutu pendidikan akan tercapai sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan.
B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah di atas akan memunculkan beberapa rumusan masalah yang akan kami angkat dalam penulisan in. Adapun rumusannya dibuat dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:
1.      Bagaimana konsep pendidikan Islam menurut pemikiran Ibnu Sina?
2.      Apakah konsep pendidikan Islam menurut Ibnu Sina ini masih relevan untuk diaplikasikan di zaman sekarang?
C.    Pembatasan Masalah
Agar tidak terjadi kesimpangsiuran atau dalam rangka menyamakan persepsi terhadap permasalahan ini, maka penulis merasa perlu kiranya membuat pembatasan masalah agar fokus pembahasannya lebih jelas dan terarah.
Studi ini akan penulis batasi pada pembahasan sekitar pendidikan berbasis mutu menurut konsep pemikiran Ibnu Sina yang meliputi:
1.      Tujuan pendidikan islam.
2.      Kurikulum pendidikan islam.
3.      Guru pendidikan islam.
4.      Metode pembelajaran islam.
D.    Tujuan Penelitian
Sejalan dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian dalam kajian ini adalah:
1.      Untuk mengetahui konsep pendidikan Islam yang diaplikasikan oleh Ibnu Sina.
2.      Untuk menganalisis konsep pendidikan Islam menurut Ibnu Sina yang masih relevan untuk diaplikasikan di zaman sekarang.
E.     Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan dari penulisan skripsi ini diharapkan data dijadikan sebagai berikut:
1.      Secara teoritis adalah sebagai sumbangsih terhadap pengembangan keilmuan khususnya tentang pendidikan berbasis mutu; telaah atas pemikiran Ibnu Sina.
2.      Secara praktis adalah dapat dijadikan sebagai bahan penyusunan hipotesis bagi peneliti selanjutnya yang berkaitan dengan masalah pendidikan berbasis mutu: telaah atas pemikiran Ibnu Sina.
F.     Definisi Operasional
Untuk mempermudah dalam pembahasan, maka di bawah ini akan dijelaskan pengertian dari judul yang di bahas adalah sebagai berikut:
Pendidikan        : Adalah suatu kegiatan yang secara sadar dan sengaja serta penuh tanggungjawab yang dilakukan oleh orang dewasa kepada anak sehingga timbul interaksi dari keduanya agar anak tersebut mencapai kedewasaan yang dicita-citakan dan berlangsung terus menerus.
Berbasis             : Berdasar
Mutu                 : Adalah sebuah derajat variasi yang terduga standar yang digunakan dan memiliki ketergantungan pada biaya yang rendah.
Tela’ah              :  Adalah penyelidikan, pemeriksaan.
Pemikiran          :  Adalah suatu dialog batin yang menggunakan ide-ide abstrak yang sama sekali tidak fiktif, yang memiliki realitasnya sendiri.
Ibnu Sina           :  Adalah seorang ilmuwan dalam bidang filsafat, kedokteran, logika, matematika, fisika dan ahli dalam bidang pendidikan.
Dari beberapa penjelasan istilah di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan judul skripsi di atas adalah suatu daya upaya untuk menjadikan anak didik menjadi manusia, yang bertanggung jawab, cerdas dan berakhlak mulia mempunyai potensi yang tinggi dalam kehidupannya serta dapat bermanfaat bagi kehidupan orang lain.
G.    Metode Penelitian
Metode penelitian adalah strategi umum yang dianut dalam pengumpulan data dan analisa data yang perlu guna menjawab persoalan yang dihadapi, sebagai rencana menjawab persoalan yang diselidiki.
Maka secara metodis, penulisan “Pendidikan Berbasis Mutu: Tela’ah Atas Pemikiran Ibnu Sina”  ini akan menyajikan perihal jenis penelitian, pendekatan penelitian, metode pengumpulan data dan penyajian.
1.      Jenis penelitian
Penelitian ini berjenis penelitian pustaka (library research) dengan mengkaji sumber data yang terdiri dari literatur-literatur yang berkaitan dengan judul.
2.      Pendekatan penelitian
Pendekatan penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Artinya prosedur pemecahan masalah dengan menggunakan data yang dinyatakan secara verbal dan klasifikasinya bersifat teoritis. Tidak diolah melalui perhitungan matematik dengan berbagai rumus statistik. Namun pengolahan datanya disajikan secara rasional dengan menggunakan pola pikir menurut hukum-hukum logika.
3.      Metode pengumpulan data
Dalam studi ini, langkah pertama yang dilakukan adalah mengumpulkan data-data yang bersifat literatur, yaitu buku-buku yang merupakan karya atau tulisan Ibnu Sina sebagai data primer. Kemudian dilengkapi dengan bahan-bahan atau buku-buku lain yang bertalian dengan pemikiran Ibnu Sina atau yang berkaitan dengan prosedur studi ini.
4.      Metode penyajian data
Adapun metode yang digunakan dalam membahas hasil penelitian ini adalah:
a.       Metode interpretasi, yaitu metode yang digunakan dengan cara menyelami karya tokoh, agar dapat menangkap arti dan nuansa yang dimaksud tokoh secara khas.
b.      Metode kesinambungan historis
Metode ini digunakan untuk mengetahui benang merah pengembangan pikiran sang tokoh dengan cara menyelidiki lingkungan historis danpengaruh-pengaruh yang dialami sang tokoh, maupun dalam perjalanan hidupnya sendiri. Sebagai latar belakang eksternal diselidiki keadaan khusus zaman yang dialami sang tokoh. Sebagai latar belakang internal diperiksa riwayat hidupnya, pendidikan, pengaruh yang diterima, relasi dengan tokoh-tokoh sezamannya, dan segala pengalaman-pengalaman yang membentuk pandangannya.
c.       Metode komparatif
Suatu metode penyelidikan deskriptif yang berusaha mencari pemecahan melalui analisa tentang perhubungan-perhubungannya sebabsebab akibat, yakni yang meneliti faktor-faktor tertentu yang berhubungan dengan situasi atau fenomena yang di selidiki dan membandingkan satu faktor dengan yang lain.
d.      Metode deskriptif-analitik
Menguraikan secara teratur konsepsi sang tokoh (Ibnu Sina) mengenai pendidikan berbasis mutu, kemudian dibuat analisis teks-teks sentral yang penting bagi konsep pemikirannya. Sehingga diperoleh satu kesimpulan.
Adapun langkah-langkah yang penulis tempuh dalam studi ini adalah:
1.      Membaca buku-buku karya Ibnu Sina untuk menentukan pemikirannya yang dapat dimasukkan ke dalam pemikiran pendidikan berbasis mutunya Ibnu Sina.
2.      Mendeskripsikan pemikiran Ibnu Sina tentang pendidikan berbasis mutu.
3.      Menganalisis konsep pendidikan berbasis mutu menurut Ibnu Sina.
4.      Membuat kesimpulan-kesimpulan.
H.    Sistematika Pembahasan
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas pada skripsi ini penulis mencoba akan menguraikan isi uraian pembahasannya, adapun sistematika pembahasan skripsi ini terdiri dari lima bab antara lain sebagai berikut:
Bab I     : Adalah uraian pendahuluan yang berfungsi sebagai pengantar dalam memahami pembahasan bab berikutnya. Pada bab ini terdiri dari tujuh sub yang meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, definisi operasional, metode penelitian dan sistematika pembahasan.
Bab II    :  Adalah landasan teori, yang berisi tentang pendidikan berbasis mutu dan faktor-faktor yang mendorong peningkatan mutu pendidikan Islam.
Bab III  :  Adalah pendidikan berbasis mutu: tela’ah atas pemikiran Ibnu Sina yang meliputi biografi Ibnu Sina dan konsep pendidikan berbasis mutu menurut Ibnu Sina.
Bab IV  :  Adalah menganalisa pendidikan berbasis mutu: tela’ah atas pemikiran Ibnu Sina dan relevansi penerapan pendidikan Islam di masa ini.
Bab V    :  Adalah penutup, bab terakhir dari skripsi ini yang terdiri kesimpulan dan saran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar